Wednesday, March 20, 2013

'Missing' You


Jangan siksa aku dengan melupakanmu
Hubungilah aku walau dalam mimpi

Itulah petikan syair favorit saya, senantiasa menggetarkan jiwa dan akal yang telah menahan rindu entah sampai bila masa. Terdengar saja dua baris itu dinyanyikan, waktu terasa berhenti, membebaskan hati dan pikiran memanggil-manggilnya.

Betapa pun perasaan itu tak terbendung lagi dan langkanya kesempatan berjumpa dengannya walau dalam mimpi, doa dan harapan ini tak pernah terputus. Dan meskipun nanti hanya mampu menatapmu tanpa engkau menyadari keberadaan ini, itu pun tak akan apa-apa. Asalkan akhirnya rindu terobati, karena telah melihatmu dengan begitu sempurna. Semoga Allah mengabulkan hajat suci ini. Amiin.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Sebenarnya apa yang sedang saya bicarakan. Dimabuk cintakah saya? Ya, saya rasa itu tidak salah. Semakin saya mengenalnya, semakin besar pula rasa cinta ini. Bahkan saya berani tidak patuh pada kedua orang yang paling penting dan berharga dalam hidup saya apabila mereka tidak menghendaki saya mengikuti dia yang saya cintai itu*.

*Saya akan berbagi cerita tentang ini di lain kesempatan, In Shaa Allah.


Cinta itu bisa datang ketika melihat seseorang yang kita pikir lebih dari diri kita muncul dan membuat hidup kita berubah dan menjadi lebih indah serta bermakna.

Saat melihat dia yang cantik dan tampan (sedangkan menurut kita, kita ini biasa-biasa saja) tiba-tiba rasa cinta itu muncul. Setelah itu, mungkin kita terpikir bahwa kita telah jatuh cinta.

Saat mendengar dia yang begitu fasih penuh pesona mengkomunikasikan ide-idenya di depan orang banyak (sedangkan menurut kita, kita ini biasa-biasa saja) tiba-tiba rasa cinta itu muncul. Setelah itu, mungkin kita terpikir bahwa kita telah jatuh cinta.

Saat dia yang tak pernah bosan menarik hati kita (sedangkan kita ini biasa-biasa saja) seiring dengan waktu, perlahan-lahan namun pasti, akhirnya rasa cinta itu pun muncul juga. Setelah itu, mungkin kita terpikir bahwa kita telah jatuh cinta.

Dan masih banyak jalan cerita cinta yang lainnya, yang sebetulnya apa pun itu pada hakikatnya sama. Salah satu hal yang bisa dijadikan persamaannya ialah dengan cara bagaimana rasa cinta itu muncul. Sebagian besar bermula dari alat indera kita yang ternyata berfungsi lebih dari yang dimaksudkan. Mereka adalah mata dan telinga kita. Dari dua alat indera kita ini, boleh jadi kita telah dibuat jatuh cinta berkali-kali. Ngaku, nggak? Nggak ngaku juga nggak pa-pa :D.

Jika kenyataannya demikian, lalu mungkinkah bahwa cinta itu bisa muncul dan tumbuh tanpa fungsi kedua alat indera itu. Dalam arti di sini ialah kita tidak melihat wajahnya dan kita tidak pula mendengar suaranya. Bahkan membayangkan dan melukiskannya pun tak seorang manusia mampu dan boleh melakukannya. Kita hanya disuguhkan oleh cerita-cerita, berita-berita, serta bukti-bukti sejarah yang telah ia tinggalkan. Malahan rasa cinta kita itu jauh lebih besar daripada cinta kita pada manusia yang jelas-jelas nyata di depan kita saat ini. Benarkah cinta seperti itu ada?

Ada atau tidak ada gampang sekali jawabannya. Tengoklah diri kita sendiri dan saudara-saudara kita di luar sana.

Ketika kita melihat mereka yang minum dengan tidak berdiri (dan walau tak ada kursi sekalipun, mereka akan tetap duduk dengan menggunakan salah satu kaki sebagai penyangga), tahukah kita kenapa mereka melakukannya sedemikian rupa?

Ketika kita melihat mereka yang memakai celana yang tidak menutup mata kaki dan menumbuhkan janggut yang tak biasa orang lain lakukan, tahukah kita kenapa mereka melakukannya?

Ketika kita melihat mereka yang memakai hijab sedemikian rupa hingga wajah mereka pun ditutup rapat, tahukah kita kenapa mereka melakukannya?


Ketika kita melihat mereka yang memberi padahal mereka sendiri kekurangan dan juga membutuhkan, tahukah kita kenapa mereka melakukannya?


Dan masih banyak lainnya. Dan semakin banyak hal-hal spesial yang mereka lakukan, semakin banyak pula yang menkritik dengan berbagai macam serangan ide dan pemikiran, yang sebenarnya sama sekali tidak berdasar.

Sungguh cinta pada manusia biasa tidak akan sama apalagi lebih dari itu. Lalu bagaimana dengan diri kita sendiri? Cinta yang manakah yang lebih besar?

Benar atau tidak menurut anda, serumit apa pun cinta yang kita alami, dia tidak bisa datang begitu saja, dia sesungguhnya hadir karena alasan. Dan tak ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa cinta itu bisa ditipu. Dan tak ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa cinta itu cukup di mulut saja, dalam uraian kata-kata  indah mempesona jiwa yang mendengarnya.

Cinta itu ibarat sebuah biji yang bila ia ditanam dengan baik dan benar maka dia akan tumbuh menjadi akar, batang, daun, bunga dan akhirnya menghasilkan buah yang karena itulah biji itu diciptakan. Nah, dari perumpamaan tersebut sangat jelas bahwa cinta itu tak kan ada artinya apabila ianya tidak mewujudkan apa-apa yang nyata.

Sebenar-benarnya cinta (biji) itu pastilah akan menumbuhkan keyakinan yang kuat (akar dan batang), yang selanjutnya, atas konsekuensi dari keyakinan tersebut, mewujudkan tindakan-tindakan nyata (daun, bunga dan buah).

Kehinaanku bila jauh darimu
Kehormatanku bila aku bersamamu

 
Orang pada zaman di mana Sang Kekasih masih hidup sehingga mereka bisa mendengar dan melihatnya, akan lebih mudah tertanam cinta suci itu dan membuahkannya. Sedangkan kita yang hidup di masa sekarang, ditantang oleh sebuah kenyataan hidup bahwa Sang Kekasih tak lagi ada bersama kita. Karenanya, apakah kita sanggup menggapai cinta, keyakinan dan pengorbanan yang sama dengan mereka sedangkan kita sendiri tak pernah mendengar dan melihatnya. Dan mampu kah kita menghadirkan cinta tanpa kita mengenalnya, orang yang katanya kita cintai itu?

Mudah bagi anak-anak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar berikut ini.

Guru               : "Siapakah yang harus kita cintai setelah Allah?
Anak-anak    : "Rasulullah SAW."
Guru               : "Siapa yang cinta Rasulullah?"
Anak-anak    : "Saya, Saya, Saya."

Ketika anak-anak itu telah tumbuh dewasa dengan berbagai macam wawasan dan pengetahuan yang berbeda-beda, anak-anak yang dulunya menjawab sama dan serentak pada kala itu, sekarang beberapa dari mereka ada yang diam, ada yang mungkin malu atau ragu-ragu. Dan beberapa yang lain lagi ada yang malah tambah dahsyat jawabannya dan lain sebagainya.

Pada diri sendiri saya bertanya, di antara mereka, anak-anak itu, siapakah saya ini?

Catatan:
Tulisan ini terinspirasi atau wujud dukungan saya pada sebuah karya besar Muhammad Husain Haekal yang berjudul Hayatu Muhammad atau Sejarah Hidup Muhammad dalam bahasa Indonesia, sekaligus bentuk syukur saya karena akhirnya berhasil mengkhatamkan buku yang sebenarnya telah diringkas menjadi satu jilid tersebut. Sejak awal saya memang kurang tertarik dengan buku tipis/mini/kecil yang menceritakan sejarah hidup Rasulullah sebab saya tahu saya tidak akan pernah puas dengan penjelasannya. Sedangkan dunia di luar sana, banyak orang yang telah melukiskan sejarahnya dengan seenaknya dan cenderung tidak mengagungkannya dalam sebuah buku besar, dengan penjelasan dan argumen yang tidak singkat. Karenanya, Muhammad Husain Haekal menghadirkan buku itu sebagai serangan balik atas apa yang telah diperbuat pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab tersebut. Jadi, jangan bingung saat membaca karya bukunya sebab anda akan sering dihadapkan berbagai macam isu dan propaganda yang saling bertentangan yang kemudian anda akan diajak merenungi kesimpulan atau penjelasan yang benar menurut Muhammad Husain Haekal.    

Buku yang telah saya baca tersebut adalah buku cetakan lam tahun 1989. Tentu bahasa yang dipakai sangatlah kental dengan perkembangan bahasa Indonesia pada masa itu. Saya sarankan jika anda masih baru akan mau membaca buku itu, lebih baik pinjam atau beli versi/cetakannya yang terbaru dengan EYD/Ejaan Yang Disempurnakan. Dan, jangan loncat-loncat saat membacanya. Membaca atau mempelajari sejarah tidak boleh sepotong-potong, harus totalitas. Dan satu hal yang tak kalah penting, tanyakan pada diri anda, mengapa anda ingin membaca atau mengetahui sejarah hidup Muhammad? Apabila ada tidak benar-benar tulus ingin membacanya, sebaiknya anda jangan membacanya dulu. Tunggu sampai anda benar-benar siap dan ingin sekali membacanya, bukan karena orang lain, tapi karena diri anda sendiri.



  





  


The Show Must Go On




Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad karangan Muhammad Husain Haekal yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia cetakan kesepuluh (Edisi Besar) 1989 halaman 330, pada beberapa bagian dari kalimat terakhir paragraf kedua, beliau menuliskan ....ajarannya dapat mengubah dunia dan mengubah jalannya roda sejarah, dan masih selalu akan mengubah dunia sekali lagi, dan akan mengubah jalannya roda sejarah sekali lagi. 

Apa yang terlintas dalam benak dan pemikiran anda setelah membaca pernyataan tersebut di atas? Mungkin pendapat anda akan sangat dipengaruhi oleh apa yang telah atau belum anda ketahui.

Begitu pula dengan saya. Saat membaca potongan kalimat itu jiwa saya seolah terbang ke sebuah masa beberapa tahun yang lalu. Entah sudah berapa kali saya mendengar pernyataan itu, baik disampaikan oleh kakak-kakak mentor maupun pengetua-pengetua organisasi kami, yang pasti dia memberi pesan dan kesan mendalam di hati saya.

Tidak sedikit orang yang segan ambil peduli dan lebih mementingkan apa yang bisa mereka nikmati sekarang. Bahkan kawan-kawan dekat saya (organisatoris) dan saudara kandung saya sendiri pun tak sepaham dengan saya. Saya (seakan-akan) asing di lingkungan sendiri. Dengan segala argumen yang mereka kuasai, mereka mencoba mempengaruhi saya atau dengan kata lain ingin menyadarkan saya, bahwa apa yang saya dukung tidaklah sepenuhnya benar. Kadang kala saya tertarik untuk membenarkan pendapat mereka, tapi tak pernah saya benar-benar melakukannya.

Al yaqinu la yuzailu bisysyak. Keyakinan tak kan lah rapuh hanya karena sedikit keraguan. Saya setia dengan keyakinan bahwa Dia menjanjikan sebuah mimpi (harapan/cita-cita) yang akan menjadi sebuah kenyataan. Rindu dan cinta ini hanya akan semakin memperkuat jiwa yang yakin bukan malahan melemahkan dan menumbuhkan keraguan. Logikanya sederhana. Apabila seseorang memiliki rasa cinta pada seseorang yang lain dan merinduinya sebab lama tak berjumpa misalnya , adakah perasaannya itu menjadikannya ragu pada dia yang dicintai dan dirindui itu. Jika iya, sungguh disayangkan dan memanglah benar bahwa cinta dan rindunya itu ternyata hanya lah semu semata.

Masa kejayaan yang pertama dan kedua telah tertunaikan dan sekarang tiba masanya yang ketiga. Tapi, bilakah masa ketiga itu akan datang? Jika kita memang sungguh-sungguh percaya pada masa yang dijanjikan itu, kapan dia datang tak lah menjadi penting. Yang menjadi perhatian mereka dan kita ialah mempersiapkan diri sebaik mungkin menyambut kembali masa kejayaan itu. Hanya orang yang bersiap-siap dirilah yang layak mendapat impian yang dicita-citakannya.    

Maka, mari kita semua bersiap-siap....Tapi, dengan cara bagaimana?

O, masa' sich anda tidak tahu? Ah, bohong! ^_^

To Be Continued.....

Wednesday, February 27, 2013

Letters from the Tower

Letters from the Tower

(I Love You Two)



Introduction (Basa-basi)

Sampai hari ini, hanya ada dua program acara TV yang sanggup membuat saya duduk manis tanpa menyibukkan diri dengan hal-hal lain, bahkan untuk minum atau makan kecil sekalipun. Mereka adalah pertama, Kuliah Bersama Mufti dan kedua, Project X (Japanese Documentary). Sekilas nampak jelas bahwa kedua program acara tersebut tidak saling terkait, malahan sangat berlawanan. Kedua-duanya membicarakan topik yang berlainan, yang satunya religius dan satunya lagi duniawi. Bagaimanapun kita mencoba menghubung-hubungkan keduanya tetaplah tidak sama, satu ke kanan satunya lagi ke kiri, nggak akan ketemu.




Ketika mendengar Mufti menyampaikan kuliahnya, saya lebih sering dan cenderung diam membisu, merenung dan berpikir. Hal ini berdampak positif sebab mendorong saya agar lebih banyak lagi belajar agama Islam. Sungguh ilmu Allah itu besar luas tak terbatas. SubhanaAllah Walhamdulillah Wala Ilaha Illallahu Allahu Akbar.



Sedangkan, saat mendengar orang-orang yang berbagi pengalaman kehidupan hebat mereka di Project X, saya biasanya tersenyum dan tertawa (tiba-tiba) disebabkan beberapa alasan. Saya memiliki keunikan sendiri dalam menikmati sajian cerita-cerita Negeri Sakura itu. This unique feeling is like a special person you’ve been longing so far appeared just in front of you.Perasaan saya gembira, bahagia.



Akan tetapi, satu hal yang saya secara pribadi rasakan sebagai penikmat kedua program tersebut ialah kedua-keduanya sama-sama menyampaikan pesan kebahagiaan sejati di akhir cerita, meskipun dengan jalan yang berbeda.




Content (Inti Sari)



Baiklah kali ini saya ingin berbagi cerita yang baru saja saya dapatkan dari menonton Project X sore hari ini, 24 Februari 2013.



Minggu ini Project X menampilkan sejarah singkat pembangunan Tokyo Tower yang terkenal di seluruh dunia itu. Saya tidak akan membicarakan sebarang detail terkait dengannya, sebab pasti akan sangat panjang dan saya pun mesti perlu melengkapi tulisan dengan melakukan kajian dari beberapa referensi buku. Kalau asal-asal tulis, wah bisa dituntut saya, hahaha :D



Ada dua pria yang menjadi sorotan Project X selama masa kontruksi Tokyo Tower tersebut, Tuan G (Goro) dan Tuan T (Takeyama). Kita sering kali mendengar bahwasannya di sebalik pria hebat itu ada dua wanita hebat di belakangnya, yaitu ibunya dan isterinya. Salah atau betul, hayo?! Mhmh, kalau salah berarti anda bukan pria dan wanita yang hebat (Waduh, maaf jangan minder dulu. Secara prinsip, kita semua hebat. Coba tuliskan kehebatan anda sekecil apa pun itu dan beritahu pada orang-orang dekat yang anda sayangi. Menjadi hebat bukan lah masalah diketahui atau tidak oleh orang lain, melainkan diri kita sendiri dan orang-orang di dalam rumah kita. Itu yang penting.)



Kembali ke cerita Tuan G dan Tuan T.



Tuan G adalah pekerja kontruksi yang paling menonjol, maksudnya dia sangat terkenal di antara para pekerja lainnya. Dia memiliki ciri khas yang unik yang tidak dimiliki oleh para lelaki yang ada dalam projek menara. Ketika beliau diwawancarai, beliau dengan bercanda berkata kurang lebih seperti ini," Saya akan tunjukkan bahwa saya adalah pria yang hebat sehingga saya nanti bisa mendapatkan isteri yang saya inginkan, hahaha.... Seorang peremuan pasti akan melirik saya. Tunggu saja waktu akan bicara dan membuktikannya." Dalam hati, saya bertanya-tanya mengapa Tuan G sampai berlebihan seperti itu menyoal wanita. Apakah tidak ada seorang wanita pun yang menyukainya pada saat itu. Mhmh....mungkin karena perangainya yang agak aneh dan keliatan suka becanda sehingga nampak tidak serius membuat para wanita yang melihatnya jadi was-was, haha boleh jadi. Tuan G itu memiliki kepribadian yang menarik sekali sekaligus meragukan. Saya bisa memahami perasaan wanita yang tidak bisa serta-merta ‘mempertimbangkannya’.



Demi meraih impiannya itu, Tuan G pun bekerja keras dan pantang menyerah. Pada suatu hari, semasa dalam pembangunan menara, terpikirkan olehnya untuk melakukan janji temu dengan seorang wanita atas bantuan ibunya. Alasannya, dia ingin menikah. Setelah itu, hari pun tiba, berjumpalah dia dengan seorang wanita yang memiliki senyuman yang penuh pesona yang bernama Nona M (Misao). Sejak perjumpaan yang pertama itu, Tuan G langsung jatuh hati padanya. Dia menyatakan pengakuan dirinya pada Project X bahwa pada hari itu dia berkata pada dirinya sendiri, "Aku yakin dia adalah wanitaku dan aku pasti akan menikah dengannya." Keesokan harinya, Tuan G langsung memberitahu ibunya agar segera melamar Nona M. Namun, jawaban lama tak kunjung datang.





Lain lagi ceritanya dengan Tuan T. Dia sudah lama menyukai seorang gadis. Hanya saja dia belum mampu meyakinkan gadis itu dan ibunya. Hingga suatu hari dia mendapat tawaran untuk bergabung dalam projek Tokyo Tower sebagai instruktur. Selama pembangunan menara itu, pada malam hari selepas bekerja dia senantiasa meluangkan waktunya untuk menulis surat pada Nona R. Dalam surat-suratnya itu dia menceritakan segala sesuatu tentang pekerjaannya, kesulitan dan tantangan serta serba-serbi kehidupan pribadinya kepada wanita yang ia cintai itu. Dia sangat berterima kasih pada hadiah yang Nona R berikan padanya. Dalam satu suratnya dia mengungkapkan perasaannya, "Terima kasih banyak atas hadiah itu. Aku selalu memakainya setiap hari."





Kedua pria di atas telah menunjukkan kesungguhan mereka dalam bekerja sekaligus perjuangan pada wanita yang mereka cintai. Lalu, bagaimana dengan sambutan atau jawaban dari Nona M dan Nona R dari pihak wanita. Mari kita simak di akhir cerita di bawah ini.





Setelah sekian lama menunggu jawaban Nona M, Tuan G mendapatkan berita bahagia. Akhirnya lamarannya diterima. Dia merasakan bahagia yang tiada terkira. Bekerja pun semakin bersemangat. Apa yang membuat Nona M merasa yakin dengan Tuan G? Dia pergi mendatangi tempat bekerja Tuan G agar bisa melihat sendiri tempat seperti apa dan bagaiman dia bekerja. Di atas menara yang sedang dibangun itu, Nona M, dengan kedua matanya, melihat sosok pria yang sederhana itu, begitu khusuk dan tenang mengerjakan tugasnya yang beresiko dan berbahaya. Dari situlah, dia memantapkan hatinya untuk menerima lamaran Tuan G dan menikahinya sehari setelah peresmian Tokyo Tower dilaksanakan.



Di akhir program, ada sebuah scene memunculkan Tuan G dan Nona M di masa sekarang (yang tentu saja sudah tua) berada di atas lift Tokyo Tower, berdua. Di dalam lift Nona M berkata, "Uh, menakutkan ya." Lalu jawab Tuan G, "Ah, tidak. Aku sangat menyukainya." Kemudian mereka diam dan melirik satu sama lain, hehe



Sebagai penutup, sang pembawa acara Project X bertanya pada Tuan G, "Apa yang menjadi sebab semua pekerjaan berat itu menjadi terwujud seperti sekarang?" Dengan gayanya yang tenang, dia pun menjelaskan perasaannya, "Semua ini hanya terjadi karena cinta. Kami semua mencintai pekerjaan yang kami kerjakan. Kami melakukan segala sesuatunya yang terbaik sebab kami ingin melakukannya. Ini semua bukan tentang uang atau kemewahan semata. Kami bekerja secara murni dan tulus ikhlas sebab kami cintakan pekerjaan kami. Sebab cinta itulah maka tumbuhlah rasa tanggung jawab yang besar pada diri kami masing-masing. Saya pikir itulah yang menjadikan semua ini bisa terjadi." Tuan G menambahkan, "Dan saya sangat merasa bahagia dan bangga bisa memiliki pekerjaan yang hebat yang saya cintai serta seorang isteri yang tak kalah hebatnya yang begitu saya sayangi.”



Kemudian, bagaimana kisah selanjutnya, antara Tuan T dan Nona R.



Sebesar apapun cintanya pada Nona R, Tuan T tetap lah fokus bertanggungjawab pada amanah pekerjaan yang sedang dijalaninya. Bagaimana seorang laki-laki pada masa itu meluangkan waktu istirahat malamnya (bahkan pada jam 3 dini hari) hanya untuk menulis surat yang menceritakan hari-hari yang sudah/sedang dijalaninya pada hari itu. Dan jumlah surat yang dia kirim pada wanita yang ia cintai begitu lama itu melebihi 100 keping. Ketika saya melihat surat-suratnya itu di layar kaca TV (masih disimpan dengan sangat baik oleh Nona R hingga sekarang), meskipun saya bukanlah orang yang pandai dan paham bagaimana menulis kanji/huruf Jepang, setidak-tidaknya saya pernah belajar dan tahu, tulisan tangannya tidak begitu bagus dan bahkan nampak agak berantakan. Tidak mengherankan sebab Tuan T menulis surat-surat dalam keadaan penat yang luar biasa. Justru tulisannya yang apa adanya itu sangat-sangat menunjukkan ketulusannya pada Nona R.



Diceritakan pada akhir program, Nona R dan keluarganya menerima Tuan T dan menikah beberapa masa setelah Tokyo Tower diresmikan. Nona R menyatakan sebuah pengakuan pada Project X bahwa dia senantiasa menyimpan dan menjaga surat-surat yang dikirim oleh Tuan T. “Cerita-ceritanya sungguh luar biasa. Saya pun menceritakannya pada orang-orang terdekat saya. Saya sungguh begitu bangga padanya.... Saya berharap ketika saya meninggalkan dunia ini, saya ingin surat-surat ini pergi bersama saya. Surat-surat ini adalah nafas hidup saya yang sangat berarti jadi saya pun ingin mati bersamanya.”



Ya begitulah sepotong cerita singkat di sebalik sejarah pembangunan Tokyo Tower di Jepang. Saya percaya masih ada banyak lagi cerita-cerita hebat selain dari Tuan T dan Tuan G. Bagi anda yang sudah pernah menonton program acaranya secara langsung di NHK channel atau dari sumber-sumber lain selain dari pada tulisan pendek ini, mungkin berbeda-beda dalam menginterpretasikan pesan dan hikmah cerita kedua tokoh di atas. Itu hak masing-masing. Kita memiliki dasar pemikiran sendiri-sendiri.





Closing (Kritik dan Saran)



Bagi saya pribadi, dengan jujur dan subjektif, cerita dua pasang manusia itu memberi sinar yang positif tanpa memandang dari mana negara, ras/warna kulit dan agama mereka. Memang saya dan mereka memiliki kepercayaan dan keyakinan yang tidak sama, namun bukan berarti saya langsung tak suka dengan semua tentang mereka. Walau bagaimanapun, kita semua adalah makhluk Tuhan Semeseta Alam, Tuhan Yang Esa. Apapun takdir yang DIA tentukan untuk kita, sehingga membuat kita berbeda-beda satu sama lain, kita masihlah diciptakan sama, sama-sama dianugerahkan fitrah sebagai manusia, makhluk Tuhan yang mulia.



Kebaikan atau hikmah itu sepatutnya tidak melihat siapa yang membawanya, melainkan esensi dari kebaikan atau hikmah itu sendiri. Salah satu dosen favorit saya pernah mengirim email dan menasihati saya, yang isinya menyatakan “Dengarkan dulu apa yang disampaikan (kebenaran), baru lihat siapa yang menyampaikannya.”



Nah, pesan moral apa yang bisa saya ambil dari kisah cerita manusia antara romance dan perjuangan ambisi kehidupan di atas. Dari sekian film, novel, cerpen, artikel dan berita tentang Jepang yang pernah saya ikuti, semuanya berakhir pada kesimpulan yang sama, yaitu kekuatan tekad dan pantang menyerah yang menggiring manusia merasakan kebahagiaan di dunia. Man Jadda Wa Jadda, sama seperti halnya pepatah Arab yang terkenal itu.



Kebahagiaan yang sesungguhnya baru benar-benar terasa setelah melewati kesulitan dan tantangan yang dahsyat. Kalau kesusahan hidup yang dialami hanya biasa-biasa saja, berarti iman (keteguhan jiwanya) pun biasa-biasa saja. Bukankah Allah menguji manusia menurut tingkat keimanannya. Jadi, beruntunglah kita apabila kita dihadapkan pada masalah kehidupan yang besar (relatif) sebab itu berarti telah ada lampu hijau yang mengisyaratkan bahwa kita akan naik ke kelas yang lebih tinggi, In Shaa Allah.



Saya mengaku salut baik pada Tuan G dan Tuan T yang sama-sama mampu bersikap rasional ditengah-tengah perasaannya yang menggantung pada wanita yang mereka cintai. Mereka berdua tetap berdiri kokoh pada tanggung jawabnya yang besar pada proyek menara. Dan, pada waktu yang sama mereka pun terus berupaya mendapatkan hati wanita yang ada dalam harapan, cita-cita mereka. Pekerjaan dan wanita adalah dua hal yang sama-sama mereka cintai karenanya perjuangannya pun harus sama, tidak melebihi ataupun mengurangi salah satu pihak. Fokus minda dan wujud perbuatan untuk kedua-duanya sama-sama 100%.



Kebanyakan cerita fiksi ataupun non-fiksi, laki-laki sering tergambarkan lemah karena wanita. Sehingga dalam cerita-cerita seperti itu, sosok wanita menjadi objek sasaran kuat lemahnya jiwa laki-laki. Itu bisa jadi sangat benar. Namun, kita tidak bisa serta merta menerimanya sebagai pernyataan yang absolut, mutlak. Mengapa? Karena dunia ini itu tidak hanya ada satu warna, ada juga laki-laki yang luar biasa yang tidak tergolong dalam cerita yang sudah umum tersebut. Menjadi tidak umum artinya menjadi khusus – special.



Apa yang spesial dari Tuan G dan Tuan T. Mereka berdua tidaklah sama seperti pemuda-pemuda yang mengejar-ngejar cinta di luar batas kewajaran sosial (lebay). Mungkin mereka tidak melakukannya sebab mereka tidak tahu caranya (laki-laki yang kaku). Walaupun demikian, mereka pun mempunyai caranya sendiri yang lebih jujur, tanpa dibuat-buat. Sehingga, wanita yang sebelumnya terjebak dalam keraguan yang membelenggu akhirnya menjadi terbebas dan yakin.



Sungguhlah benar bahwa kejujuran itu sederhana, jadi sederhanalah. Menjadi sederhana demi kejujuran – kemurnian dari hati yang tulus, tak kan membiarkan kita kehilangan apa yang kita harapkan. Boleh jadi kita diuji dengan tidak terpenuhinya harapan itu, namun apakah tidak mungkin kita malah mendapatkan yang lebih dari pada yang kita harapkan. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah yang menghendaki.



Dalam apapun yang anda yakini itu baik dan benar, bulatkan tekad dan bersemangat pantang menyerah. Man Jadda Wa Jadda . Good Luck!



P.S.

1. Maaf jika ada kesalahan pada nama. Karena itulah, saya sengaja menggunakan inisial dari huruf pertama dari nama asli mereka – itu sajalah yang saya ingat dengan penuh keyakinan.




2. Mengapa judul hanya condong pada cerita Tuan T dan Nona R. Apakah penulis tidak begitu menyukai kisah cerita Tuan G dan Nona M. Saya pada dasarnya memang suka menulis surat. Karena ada ‘unsur’ surat itu lah saya jadi terinspirasi menulis catatan pendek ini secara kilat. Jadi, saya minta maaf apabila tulisannya tidak begitu rapi dan loncat sana-sini. Mohon bimbingan komentar dari para pembaca.

Wednesday, February 6, 2013

I never feel lonely, but always happy


Simpanan di Dalam Hati (Chokin)

 

Setiap kutemui kebaikan seseorang

Kusimpan kebaikan itu di dalam hati

Persis seperti sebuah simpanan di dalam bank

 

Ketika ku merasa sepi

Kuambil simpanan itu

Dan kembali bahagia

 

Jadi,

Pastikan membuat simpanan

Seperti itu

Di dalam hatimu

 

Itu

Jauh lebih baik

Dari uang pensiun

 

By Toyo Shibata

Sayonara

Kau Datang untuk Pergi

Kedua mata dan telinga
Untuk melihat dan mendengarmu hari ini
Akhirnya merelakanmu
Melangkah jauh

Kau datang, muncul tiba-tiba
Dan
Pergi begitu saja

Tersadar,
Kau memang
Hadirkan senyummu
Dan meninggalkannya
Untukku

Indah,
Dan indah sekali
Terima kasih

Aku bukan siapa-siapa bagimu
Namun kau adalah ‘seseorang’

Kau mungkin tak kan pernah tahu
Apa yang ingin kukatakan
Kau mungkin tak kan pernah tahu
Apa yang sebenarnya kurasakan

Tapi aku yakin
Dan DIA pun tahu
Mimpiku dan mimpimu adalah sama

Karenanya,
Aku rela
Dan kau pun pergi

Kau adalah air
Yang jernih, suci, murni dan sejati
Teruslah bergerak
Dan selalu mengalir

Betapapun jauh kau di sana
Kau tetaplah dekat
Di hati dan doaku

Meski, mungkin
Tak kan berjumpa lagi
Aku yakin
Suatu hari nanti
Kau akan datang kembali

Walaupun,
Kau telah berubah sempurna –menyilaukan
Kata-kata yang tak sempat terungkapkan
Perasaan yang hanya terpendam
Tetap sama untukmu
Aku akan selalu mengenalimu

Dan jika
Waktu….
Tak membiarkan itu

Semoga Allah
Mendengarkan doaku
Kembali lagi kita bersua
Di dunia masa depan
Yang kekal abadi nan hakiki

Amiin.

Ninga Sensei

At Sensei's Room, Friday 1st February 2013 1:05 PM

Thursday, January 10, 2013


Kamu Tidak Terlambat 
(You are not Late!)

Awalnya saya tidak begitu percaya diri menulis kembali puisi ini dan lalu mempublikasikannya, meski hanya di dunia maya. Kebanyakan orang di sekitar saya mengganggap puisi itu mellow  dan manja. Jadi seakan-akan puisi terkesan lebay, padahal saya ini sudah dicap ‘lebay’. Lha, yo tambah lebay berganda, haha. Ah, peduli amat apa kata orang, apalagi kata dunia. Siapa elu siapa gue, gitu kate orang Jakarta, hehe Bahasa lebih halusnya orang yang konsisten dan berkarakter seperti ini,

“Setiap orang memiliki prinsip/keyakinan (jiwanya) yang tidak akan mampu diruntuhkan oleh sedikitpun keraguan (jiwanya yang lain), apalagi hanya dari pengaruh luar (orang lain)”.

Setelah membaca buku karangan Pak Habibie yang berjudul Habibie&Ainun; tenyata beliau, Pak Habibie sendiri, juga menulis puisi padahal beliau adalah seorang Profesor bidang Sains dan Teknologi dan pembuat pesawat terbang. Rupanya juga, panglima Islam yang terkenal (maaf, saya lupa namanya) juga sangat menyukai puisi/syair.Bagi kedua tokoh yang saya kagumi dan hormati tersebut, puisi yang mereka tulis dan baca telah berdampak luar biasa dalam kehidupan mereka sehingga disadari atau tidak telah mengantarkan mereka menjadi tokoh yang super, sukses dan terpandang. 

Lalu, ada apa dengan saya?Saya ini siapa?Saya bukan lah orang jenius seperti Pak Habibie ataupun kesatria ahli perang. Saya adalah manusia yang justru sedang mempelajari dan mengajar bahasa dan sastra. Terus, kenapa saya tidak percaya diri menulis dan membaca puisi. Tanya, kenapa? Apa alasannya? Justru kisah saya ini yang tidak logis dan membingungkan. Ibarat saya ini petani yang kerjanya menanam padi tapi tidak doyan makan nasi, hahaha Lha, yo aneh to!

Saya memang sengaja menulis note kecil dan sederhana ini hanya dengan niatan untuk berbagi, bukan materi memang tapi harganya lebih dari materi manapun – pemikiran. Tidak peduli profesi Anda (tapi mesti halalan toyyiban, lho ya), jangan mengentengkan  kekuatan syair/puisi – The Power of Letters. Bukti dan contohnya sudah buuuuuuanyak!seabrek! Kalau masih belum percaya, sepertinya Anda kurang sehat sehingga kurang bisa konsentrasi, hehe ^_^

Berikut ini adalah sebuah puisi (yang mungkin tidak puitis karena bahasanya yang lugas dan mudah diinterpretasikan dengan beragam kesimpulan) yang saya tulis pada suatu pagi 27 Ramadhan 1433H di atas meja kerja kesayangan ditemani Chiku yang terlantung-lantung kesepian menunggu Tuannya nampak di bawah jendela kamar.

Kamu Tidak Terlambat
You are not Late!

Gadis kecil itu terdiam lama….
Mematung diri di depan sebuah kaca
display toko pakaian terkenal di kotanya….
Tanpa berkedip, penuh pesona,
Dia menatap sebuah gaun wanita yang amat sangat cantik nan indah bagai permata

Gadis itu begitu mengaguminya….
Entah sudah berapa lama….berapa tahun….
Baginya,
Gaun itu adalah yang paling anggun di dunia

Meski jalan pulang menjadi lama dan panjang….
Gadis itu tetap teguh melangkahkan kakinya….
Terus berjalan dan…. kemudian berhenti, berdiri….
Karenanya dia bisa menatap gaun indah itu lagi dan lagi,
Setiap hari….

Dia tahu…. 
Dia miskin dan tidak cantik
Dia tahu….
Dia kurang pantas mengenakan gaun itu
Dia tahu….
Dia tidak mampu memilikinya
Dia pun tahu….
Dia harus segera berhenti bermimipi….

Kemudian,
Gadis itu berjalan menunduk pergi….
Matanya berkaca-kaca
Tak setetes pun dia biarkan jatuh berlinang di wajahnya.


Beberapa tahun kemudian….
Gadis kecil itu beranjak dewasa…..
Dalam hidupnya,
Dia telah melihat dan juga sempat pernah memakai baju-baju yang indah

Walaupun begitu….
Baju yang dipandangnya semasa kecil dulu
Tak pernah tergantikan….
Selalu ada di dalam hatinya, harapannya

Sungguh kasihan….
Gadis itu masihlah miskin dan tidak cantik
Menyadari semua itu….
Gadis itu berdoa siang dan malam

Dia sangat percaya dan yakin bahwa
Ada Kekuatan yang melebihi segala-galanya
Yang mampu merubah keadaan apapun
Dan hanya oleh-Nya….
Semuanya bisa

Pada suatu hari….
Gadis itu memberanikan diri
Melihat gaun itu lagi
Kebiasaan lamanya pun terulang kembali

Memandangnya membuatnya begitu bahagia tak terkira….
Dia sangat-sangat menikmatinya walau hanya dengan sepasang bola mata

Tak lama kemudian….
Seorang wanita cantik menyapa,
Dia bertanya pada gadis itu,
“Kamu menyukainya?”
Gadis itu terkejut
Dia menjawab diam dan tersenyum malu

Wanita cantik itu berkata lagi,
“Gaun ini hanya ada satu di dunia ini
dan hanya satu orang yang bisa beruntung memilikinya.”
Wajah gadis itu menjadi sayu layu
“Datanglah lagi, mungkin kau yang beruntung.” Usul wanita cantik

Entah apa yang dirasakan gadis itu….
Dia menjadi sangat bingung dan tidak bisa tidur

Keesokan harinya….
Sang gadis datang lagi
Dengan perasaan yang tenang
Menampilkan  kesederhanaan jiwanya
Walau sebenarnya….
Hatinya berdebar-debar sangat kencang

Wanita cantik itu membuka pintu
Dengan suara yang indah dan lembut
Dia berkata,
“Kamu tidak terlambat, Wahai Gadis”
Memerah pipi sang gadis

“Tapi, maafkan aku, kamu masih belum beruntung.”

Kemudian,
Gadis itu berjalan tegak pergi….
Matanya berkaca-kaca
Tiap tetes air matanya dia biarkan jatuh berlinang di wajahnya.